Selasa, 09 Desember 2014

Filled Under:

So?

Share
Bagaimana kalau ada seorang laki - laki, sudah menikah, lalu ada perempuan yang selalu disampingnya (yang bukan istrinya) yaitu rekan kerjanya atau anak buahnya, kerapkali berbicara dengan nada manja. Saat orang lain saling memanggil dengan sapaan hormat (Bapak), beliau memanggil dengan sapaan seorang adik ke kakak.?

Dalam sudut pandang saya sebagai seorang perempuan, yang membuat saya sendiri risih adalah sikap perempuan kepada laki - laki. Terlepas bagaimanapun si laki - laki menanggapinya.

Sejujurnya, saya gampang nggak suka sama seorang perempuan. Apalagi kalau gaya bicaranya tidak lugas dan cenderung manja (manja maksudnya mendayu - dayukan suara,  kata - kata atau memohon - mohon).

Meskipun itu bukan berarti rayuan, tapi kadang, saya merasa telinga saya sakit mendengarnya. Meskipun saya tidak ada hubungan apa - apa dan tidak tau apa - apa. Meskipun saya cuma tau keadaan bahwa si laki - laki bukanlah seorang yang masih single.

Yah.
Saya pun sadar, bahwa posisi saya juga adalah perempuan. Dan selalu ada kemungkinan bahwa mungkin tanpa sadar, diri saya sendiri adalah sosok yang saya benci.

Kadang saya marah pada diri saya sendiri ketika saya harus berada diantara para laki - laki, dan saya sampai harus memaksa sedikit agar mendapat sebuah pertolongan.

Tau rasanya?
Saya ingin tampar diri saya sendiri. Ingin menghancurkan cermin yang selalu buat saya merasa diri saya itu indah dan baik.

Siapa yang tau kan? Kalau dibalik paksaan saya, ternyata ada yang cemburu.
Siapa yang tau kan? dibalik permintaan tolong saya ada yang cemburu.
Siapa yang tau kan? Dibalik percakapan yang menurut saya biasa, ternyata ada yang cemburu sampai mungkin beliau memohon kepada Allah untuk meringankan sakitnya, hingga mungkin sakitnya Allah limpahkan kepada saya supaya saya mampu merasa.

Saya sendiri pun masih terkotakkan bahwa pasti akan sulit mendapatkan profesionalitas antara laki - laki dan perempuan jika tidak ada batas.

Dan setiap laki - laki pun, sikapnya akan merasa biasa aja karena tidak ada apa - apa. Merasa menolong tidak ada salahnya.

Memang. Tidak ada salahnya. Tapi, ada celahnya.
Tidak ada perempuan yang bisa benar - benar 100% tidak cemburu.
Bahkan yang sudah rela di poligami-pun, pasti merasakan rasacemburu.

So, please!
Siapapun, kalau tau saya mulai maksa nggak jelas, mulai manja nggak jelas, mulai mendayu - dayukan suara saya dihadapan laki - laki manapun, ingetin saya!
Masalah akan saya dengar atau tidaknya, itu adalah urusan saya. Yang penting kalian telah menggugurkan kewajiban kalian untuk mengingatkan saya.

Tulisan random sore - sore gara2 liat pemandangan yang.. ehem..

0 comments:

Posting Komentar

Komentarnya yaa teman - teman