Senin, 29 Desember 2014

22

Bismillahirrohmanirrohim..

I'm feeling 22.

Sudah sebanyak apakah kebaikan yang kamu perbuat untuk umat dan dirimu sendiri?

Sesak sekali rasanya kalau mengingat (aku ini udah 22). hehehe

Ya Allah, rasanya, masih sedikit sekali manfaat yang bisa aku berikan untuk agamaku. Bahkan untuk membela agama yang Rasul-Mu ajarkan pun, aku masih lemah. Sangat lemah.

Ya.
Tahun ini, aku yang memilih tetap berada diantara mereka, dengan harapan supaya setidaknya aku mampu menjadi cahaya. Tapi nyatanya, sedikit demi sedikit aku terbakar.

Kalau saja aku 100% berada disini terus, mungkin aku sudah habis membakar diriku sendiri.

Beruntung Engkau masih menyayangiku dengan tetap memberikanku akses pada kebaikan. Masih mengizinkanku berada di sekeliling orang - orang yang lebih sholeh dariku.
Setidaknya, menatap mereka membuatku iri bahwa betapa sedikitnya aku mensyukuri nikmatMu dengan mendekat kepadaMu.

Dari sekian banyak pelajaran dari 21 menuju 22 kali ini, aku banyak belajar bagaimana menyampaikan tanpa menyakiti.
Bagaimana perasaan dan pendapat orang lain mengenai aturan yang ada pada islam.
Bagaimana komentar mereka pribadi tentang sebuah aturan islam.
Dan bagaimana aku harus cerdas untuk menyampaikan dan meluruskan tanpa aku menyakiti dan mematahkan pendapatnya tanpa memberikan mereka kesempatan untuk berfikir dan merasa.

Dan dari sekian jauh perjalananku sampai ke usia ini, aku pun merasa bahwa memang ada kesalahan yang harus segera diperbaiki.
Sebuah kesalahan yang harus segera dihapuskan agar aku mampu menjadi hambaMu yang lebih baik.

Ah, semoga di tahun ini, aku bisa memperbaiki seluruh kesalahanku, menutupnya dan menjadi lebih baik kedepannya.

Tidak terasa, tidak terasa sama sekali bahwa sudah sejauh ini berjalan. Dan sudah sebanyak apa manfaat yang kutinggalkan dibelakang.

Aku senang dan sangat bersyukur atas segala karuniaMu hingga usia 22 ini.

Aku banyak belajar, banyak mendapat teman baru, banyak mendapat pelajaran baru yang pastinya tidak akan kudapatkan tanpa IzinMu.

Ah Allah,
Tidak tau harus bagaimana,
Tapi,
Aku Bahagia..
Bahagia sekali..

Terima kasih untuk kebaikanMu pada keluargaku, selalu menyehatkan ibuku. Juga memberikan ibuku kepercayaan lebih banyak untuk menyalurkan ilmunya sebagai guru. Terima kasih karena selalu memudahkan usaha dan rezeki yang Ayahku berikan untuk keluargaku.

Semua ini takkan ada tanpaMu.

Allah, kalau aku harus menuliskan semua kebaikanMu, nampaknya, ratusan halaman pada blog ini pun masih terlalu sedikit untuk menggambarkan betapa bersyukurnya aku atas karuniaMu.

Pada akhirnya,

Aku hanya memohon kebaikan dan keberkahan usiaku pada Allah. Semoga bisa selalu mendekat kepadaNya dan selalu didekatkan kepadaNya.
Aamiin..

Jikapun ada sebuah kebaikan, berikan juga pahala kepada ibu dan ayahku yang senantiasa mendo'akan dan mengusahakan yang terbaik untukku :')
Publisher: FK - 15.30
, ,

Ada yang salah dengan jenggot?

Bismillahirrahmanirrahim..

Yes. Lagi pada rame masalah jenggot seorang artis yang kata fans-nya beliau jadi mirip Nurdin M. Top.

Astaghfirullahaladzim.

Ada apakah dengan jenggot?
Kenapa kayaknya kalau ada seorang muslim, jenggotan, kesannya tuh jelek banget?
Kenapa?
Kenapa?
Apa karena kurang pantes?
Apa mirip terorris?
Silahkan kasih pendapat disini yang suka komen macam gitu.

Ada apakah dengan jenggot?

Apakah jengggot pernah menyakiti anda (merebut hak anda untuk hidup) secara langsung (jenggotnya gerak - gerak ninggalin majikannya a.k.a jenggotnya hidup) ?
Apakah segitunya?

Enggak kan?
Terus kenapa?

Sejujurnya, saya makin nggak ngerti dengan pemikiran sedikit dari orang - orang di negeri ini. Ada orang menjalankan sunnah, dikomentari habis - habisan. Ada orang mengajak kebenaran, dicaci maki habis - habisan.

Memang pada dasarnya, kami atau siapapun yang ingin berusaha *setidaknya* mendekatkan diri kepada pencipta kami bukanlah orang yang 100% suci dari dosa.
Dan bukan orang yang mungkin pantas mengemban tugas dakwah Rosulullah yang harus tetap disampaikan hingga akhir nafas kami.

Kami tau, mungkin, anda sekalian "pernah" melihat atau tau salah satu sikap buruk kami yang belum kami ubah.
Mungkin anda sekalian pernah merasakan sakit hati karena sahabat kami yang juga berpenampilan seperti kami, tapi kelakuannya tidak sesuai dengan yang kalian harapkan.

Oleh karena itulah, mohon dibedakan hal yang merupakan kesalahan kami dan bukan kesalahan kami.

Sunnah berjenggot adalah anjuran. Karena menurut Rosulullah, tuntunan kami, itulah yang membedakan laki - laki dan perempuan.

Jadi apakah jenggot bersalah? Karena berjenggot otomatis kami terorris gitu? ENGGAK!

Banyak artis hollywood yang beberapa dari kalian meng-gila-i-nya pun memiliki jenggot. Tapi kenapa kalian sedikit sekali yang berkomentar? Justru kadang komentarnya positif.

Apa karena pantas?

Lantas, kenapa giliran yang muslim, berjenggot, dikomentarinnya pedas - pedas? Padahal secara kepantasan, harusnya seorang muslim lebih pantas karena mengikuti sunnah Rosulnya.

Ayolah.
Sudah saatnya bukan lagi mengomentari apa yang ada di penampilan luar seseorang.

Toh kalian - kalian pun sering menyuarakan "Jangan lihat jeruk dari kulitnya", "Jangan lihat buku hanya dari covernya".
Iya kan?
Sok weh pikir!
Gimana kalau misalnya kalian lagi jalan, menurut kalian, kalian cantik - cantik aja, keren - keren aja. Tapi tiba - tiba ada orang, nggak kenal, cuma numpang lewat bilang ke kalian "Ih jelek banget mukanya/bajunya/gayanya"
Apa yang akan kalian bilang?

"Gaya - gaya saya, muka - muka saya, urusan saya, ngapain kamu ngurusin urusan orang lain"
Gitu kan?

So, daripada kita harus ripuh ketika orang lain balas berkomentar nggak enak ke kita, mari kita belajar lebih menghargai orang lain.

Kalau katanya negara kita negara demokrasi, semua orang bebas berpendapat, berarti semua orang juga bebas mengekspresikan dirinya sesuai keinginannya.

Kalau katanya toleransi terhadap yang berlainan agama harus bagus, jangan lupa toleransi dengan yang se-agama dengan kita.

Kita tau ada 4 mahzab berbeda yang dianut indonesia. Kita pun harus saling menghargai perbedaan pendapat para pengikutnya.

Belajarlah toleransi dari para ulama - ulama mahzab yang saling menghargai tanpa saling menyakiti.

Sudah ada musuh "nyata" yang harus kita perangi. 

Mohon maaf bila ada kesalahan kata dalam penulisan maupun penuturan.

Wassalamu'alaikum.



Source gambar : http://www.al-jamaah.com/wp-content/uploads/2012/12/janggut-753x1024.jpg
Publisher: FK - 14.23

Rabu, 10 Desember 2014

random.

Bismillahirrohmanirrohim..

Sebenernya ini posting tentang kebingungan gak penting saya.
So..
Siapapun yang baca, anggap aja saya nge-heureuyan batur.
Jadi ga usah diambil hati atau dimasukkan hati terlalu dalam.
Nanti jatuh, sakit.
Nanti saya yang dosa kalau pada sakit gara - gara baca tulisan saya.

Saya Kenapa?

Ya gitu..

  1. Pengennya kalau saya message itu kagak dicuekin.
  2. Message dibalas (alhamdulillah)
  3. Awalnya seru gitu kan, cerita naon wae
  4. Terus makin lama makin singkat
Dan secara kebetulan saya message hampir ke beberapa sosial media. Karena saya pikir mungkin "dia" yang saya ajak chatting lagi online di sosial media lain.
Tapi ternyata enggak juga.

Jadi yaudah.
Berharap dibalas salah satunya aja.

Ternyata semua message saya dibalas di semua sosial media.

Dan.

"DEG"!

Yang saya rasakan adalah "ada apa ya? tumben dia rajin pisan online di semua sosial media, dia chatting ama siapa aja".

Dan ngerasanya itu kayak orang gimana banget gitu. Hahaha

Dan saya akui itu lebay yang enggak banget dan nggak perlu banget ditanggapi.

Sebenernya sih yang bikin kepala saya pusing sendiri adalah bahwa saya mungkin tidak bisa menerima kenyataan bahwa mengobrol dengan saya bisa jadi membosankan. Dan kenyataan bahwa sosial media banyak pisan mudhorotnya dan udah terlalu banyak kasus perselingkuhan dari sosial media.

Dan saya pun merasa bodoh karena saya juga masih menggunakan sosial media dan hampir semua sosial media anak gaul masa kini saya punya akun dengan nama saya.

Ironis kan?

Ditambah saya memang pernah mengalami hal buruk di sosial media. Entah menjadi korban maupun tersangka yang nggak baik - baik. Hahahaha

Ditambah bahwa percakapan di sosial media yang menurut orang lain adalah biasa aja. Menurut saya itu agak memancing atau agak mendayu atau agak lebay. 
Entah karena kalau saya baca, saya juga praktekkan dengan gaya bicara orang yang diajak chatting. Maupun saya improvisasi dengan style saya sendiri dari sisi saya sebagai perempuan yang juga punya sifat manja.

Yeah.

Tapi saya coba berfikiran positif aja.

Siapa tau ke-random-an dan ke-bingung-an saya sekarang, lagi masuk fase awal buat Allah ngasih hidayah ke saya biar lebih bener lagi. Biar jadi qolbun salim. Biar jadi hamba yang lebih baik dan lebih patuh. Jadi perempuan yang lebih baik dan lebih kalem.

Saya sih nggak capek menggunakan otak saya untuk berfikir.

Karena memang Allah menciptakan Alam dan seisinya (lengkap dengan konflik - konfliknya) supaya kita berfikir.

Allah menurunkan ayat - ayat qauliyah-Nya serta ayat - ayat kauniyah-Nya.
Dan mungkin, segala kebingungan dan ketidak jelasan saya pada tulisan ini dan yang saya rasakan setiap harinya, adalah salah satu bentuk penyampaian ayat kauniyah Allah kepada saya.

Kalau Allah mau memberikan hidayah kepada seseorang, toh tidak ada yang bisa menahannya. Begitupun sebaliknya. Jika Allah hendak memberikan adzab kepada seseorang, tidak ada yang bisa menahannya.

Masih berusaha pelan - pelan untuk mundur dari hal - hal yang nggak baik.

Saya tau, kalau memang mau berubah, memang harus ada hentakan keras. Tapi setelah belajar dari apa - apa yang sudah dialami. Tidak selalu ada hentakan yang membuat kita mau sadar. Tapi belajar, mendalami, mencari arti, pelan - pelan bisa menjadi jalan kebaikan.

Dan saya yakin, siapapun yang ingin lebih baik, Allah tidak pelit menghitung prosesnya :D
Publisher: FK - 16.24

Selasa, 09 Desember 2014

I'm not a sniper

Sebenarnya bukan karena saya coba cari - cari alasan untuk tidak suka.
Lebih kepada, saya kurang sreg kalau ada perempuan yang agak lumayan "sok" dekat - kemudian mendekat.
Meskipun sebenarnya lebih kepada, saya nggak suka diabaikan karena orang lain. Haha

Tapi da..
Ah,
Kalian tau sendiri.
Hati perempuan suka tak tentu.

Ada beda dikit aja suka protes.
Ada ngerasa ke siapa beda ke siapa beda lagi aja pundung.
Ada yang lebih cantik, terus mendekat, minta tolong, langsung ribut - ribut nggak jelas.

Entahlah.

Yang baca tulisan ini pun pasti nggak ngerti gimana isi pikiran si perempuan. Dan lebih tepatnya isi pikiran si penulis yang kebetulan perempuan juga.

Tapi da gimana?
Di kehidupan siang-nya, dikelilingi oleh laki - laki single tukang bodor yang emang selalu guyon untuk "cari pasangan lagi". Ditambah lagi selalu disuguhin pemandangan ganjil yang nggak boleh diceritakan.

Bukan!
Bukan lagi galau gara - gara laki - laki.
Cuma lagi bingung harus kayak gimana berada di lingkungan yang memang mempengaruhi dan menurunkan sedikit kepercayaan saya kepada laki - laki. Baik itu masih single maupun sudah berkeluarga.

Yes, kita memang nggak bisa mengeneralisasi bahwa "semua laki - laki" itu sama. Karena kenyataannya, mereka memang diciptakan beragam. Kalaupun generalisasi, hanya mengeneralisasi kecenderungan yang sama.
Yes! Sama - sama mampu dibutakan oleh perempuan.

Dan pada akhirnya, tulisan saya sendiri bikin saya musti banyak - banyak ngaca. Lebih kepada "kamu teh udah jadi perempuan yang baik belum sih? Kamu ripuh mikiran laki - laki macam gimana, kamunya sendiri nggak berusaha jadi perempuan baik yang pantes dapat laki - laki baik".

Yeah.
Saya memang bukan orang yang pandai untuk memberikan solusi jitu yang sekali tembak langsung selesai.
Macam sniper handal yang sekali tembak bisa langsung membunuh lawan.

Da saya mah cuma bisa ngasih solusi terbaik dengan kondisi tertentu. Yang tentunya kalau kondisinya berubah, solusinya pun berubah. Lebih mirip senapan serbu lainnya yang mampu adaptasi terhadap perubahan kondisi. Kayak AK-47 misalnya atau Steyr AUG sekalian :D
Publisher: FK - 16.41

So?

Bagaimana kalau ada seorang laki - laki, sudah menikah, lalu ada perempuan yang selalu disampingnya (yang bukan istrinya) yaitu rekan kerjanya atau anak buahnya, kerapkali berbicara dengan nada manja. Saat orang lain saling memanggil dengan sapaan hormat (Bapak), beliau memanggil dengan sapaan seorang adik ke kakak.?

Dalam sudut pandang saya sebagai seorang perempuan, yang membuat saya sendiri risih adalah sikap perempuan kepada laki - laki. Terlepas bagaimanapun si laki - laki menanggapinya.

Sejujurnya, saya gampang nggak suka sama seorang perempuan. Apalagi kalau gaya bicaranya tidak lugas dan cenderung manja (manja maksudnya mendayu - dayukan suara,  kata - kata atau memohon - mohon).

Meskipun itu bukan berarti rayuan, tapi kadang, saya merasa telinga saya sakit mendengarnya. Meskipun saya tidak ada hubungan apa - apa dan tidak tau apa - apa. Meskipun saya cuma tau keadaan bahwa si laki - laki bukanlah seorang yang masih single.

Yah.
Saya pun sadar, bahwa posisi saya juga adalah perempuan. Dan selalu ada kemungkinan bahwa mungkin tanpa sadar, diri saya sendiri adalah sosok yang saya benci.

Kadang saya marah pada diri saya sendiri ketika saya harus berada diantara para laki - laki, dan saya sampai harus memaksa sedikit agar mendapat sebuah pertolongan.

Tau rasanya?
Saya ingin tampar diri saya sendiri. Ingin menghancurkan cermin yang selalu buat saya merasa diri saya itu indah dan baik.

Siapa yang tau kan? Kalau dibalik paksaan saya, ternyata ada yang cemburu.
Siapa yang tau kan? dibalik permintaan tolong saya ada yang cemburu.
Siapa yang tau kan? Dibalik percakapan yang menurut saya biasa, ternyata ada yang cemburu sampai mungkin beliau memohon kepada Allah untuk meringankan sakitnya, hingga mungkin sakitnya Allah limpahkan kepada saya supaya saya mampu merasa.

Saya sendiri pun masih terkotakkan bahwa pasti akan sulit mendapatkan profesionalitas antara laki - laki dan perempuan jika tidak ada batas.

Dan setiap laki - laki pun, sikapnya akan merasa biasa aja karena tidak ada apa - apa. Merasa menolong tidak ada salahnya.

Memang. Tidak ada salahnya. Tapi, ada celahnya.
Tidak ada perempuan yang bisa benar - benar 100% tidak cemburu.
Bahkan yang sudah rela di poligami-pun, pasti merasakan rasacemburu.

So, please!
Siapapun, kalau tau saya mulai maksa nggak jelas, mulai manja nggak jelas, mulai mendayu - dayukan suara saya dihadapan laki - laki manapun, ingetin saya!
Masalah akan saya dengar atau tidaknya, itu adalah urusan saya. Yang penting kalian telah menggugurkan kewajiban kalian untuk mengingatkan saya.

Tulisan random sore - sore gara2 liat pemandangan yang.. ehem..
Publisher: FK - 16.08

Kamis, 27 November 2014

Seperti disengat lebah penjejak -_-
Publisher: FK - 14.54

Alhamdulillah

Allah..
Hari ini, (dari pagi sampai siang) bahkan dari kemarin malam, rasanya dada itu sesak banget. Entah. Masih abu - abu dengan "kenapanya".

"Teh, dada aku sesak pisan. Gatau asma kambuh kayaknya."
"Kamu lagi stress ya fa? Soalnya suka ngaruh".
"Ogitu teh."
"Iya, kalau stress berat mah emang suka ngaruh da".

*berlalu ke ruang tengah*
"Fa, hardisknya nggak bisa kebaca"
"*deg* Kok bisa? Terus datanya ilang?"
"Kayaknya"
"Ah, elu"
"Tapi temen saya ada yang bisa benerin hardisk da"
"Gatau ah, terserah lu"

*pindah ke ruang tengah*
*nunduk, nangis*
"Hardisk laptop rusak dong teh. Data aku ilang semua".
"Kok bisa?"
"iya. Datanya gak kebaca"

*siti dateng*
"Teh ifa matanya kayak yang lagi sakit gitu"
"Iya, aku stress, file TA ilang semua. Barusan habis nangis disini."

*tiba - tiba pak dinda dateng*
"udah nih fa, makan dulu cakue"

*lutfan dateng*
"si ifa mukanya meuni pucet gitu"
"iya, TA-nya ilang semua"

"Aku tau rasanya fa"

Dan tiba - tiba orang sekantor (minus pak guntur, bu naya, pak erwin dan pak hera serta si "you know who") ngerubungin di ruang meeting.

Pada berusaha untuk bikin senyum lagi.

MasyaAllah.
Alhamdulillah.
Hardisknya udah balik dan datanya selamat.

Fabiayyialaa irobbikuma tukadzdziban.

Meskipun badan rasanya masih drop pisan akibat nafsu makan yang berkurang drastis. Tetep gampang lapar, tapi malas makan.
Dan masih dengan asma yang nggak diketahui asal muasalnya.

Syafakumullah untuk semua yang lagi sakit.
Semoga Allah angkat sakit dan menggugurkan dosa kita :)
Aamiin
Publisher: FK - 14.28

Rabu, 26 November 2014

anonymous

Bismillahirrahmanirrahim.
Semoga besok baikan ya dear :)

Semoga Allah juga mengampuni dosa - dosaku ke kamu :)

Kamu..
Iya!
Kamu..
Kamu yang duduk dihadapan komputermu.
Kamu yang pernah terjebak jahilnya blog ini.

Semoga selalu yang terbaik untuk kamu..

Semoga Allah memberikan kebaikan untukmu :)

*kenapa do'ainnya untuk "kamu" aja? Karena aku yakin, do'a yang baik, juga berlaku untukku*
Publisher: FK - 18.12

Nano - nano hari ini

Manis asem asin, rame rasanya.

Tetep wajib banget mengucap "Alhamdulillahirobbil 'alamin".
Dari pagi mata bengkak.
Siang ketawa - ketawa.
Sore nahan tangis gara - gara random sendiri.
Sore nangis gara - gara TA.
Dilanjut ketawa gara - gara kelakuan orang kantor.

Yeah.
Saya selalu percaya, Allah selalu memberikan segala sesuatu diwaktu yang tepat.

Kalaupun kadang saya "harus sakit", yasudah, mungkin itu yang terbaik bagi Allah untuk membuktikan sesuatu.

Tinggal bagaimana sudut pandang kita menangkap mana yang baik untuk kita. Karena pembuktian itupun bisa punya banyak sudut pandang.

Kalau menanggapi masalah saya hari ini, saya sendiri sudah punya puluhan sudut pandang tentang diri saya sendiri.

  1. Saya perempuan cerewet, kalau kesel update status yang aneh - aneh.
  2. Saya berusaha menyemangati diri saya sendiri yang kala itu sedang down. Membuat pengharusan untuk diri sendiri.
  3. Saya jahat karena bisa jadi malah bikin orang lain sakit hati
  4. Saya baik karena setidaknya, kalau orang lain sakit hati, dia berfikir tentang apa yang sudah dia lakukan. 
  5. Saya membantu orang berfikir tentang apa yang dilakukannya. Kalau baik ya nggak akan merasa apa - apa, kalau nggak baik pasti ngerasa tersindir.
  6. Saya kalau galau dan gamang suka "sok" menyibukkan diri sendiri.
  7. Saya kalau lagi emosi, berusaha mengalihkan energi menjadi lebih bermanfaat.
  8. Saya kalau lagi emosi suka grusak - grusuk.
  9. Saya suka linglung. Dan kalau linglung, suka ngelucu
Dan banyak sudut pandang lainnya.

So, kebaikan itu dilihat darimana kita memandangnya.
Yang pasti, selalu ada kebaikan orang lain yang tak terlihat dan luput dari mata kita. Terutama saya. Sehingga kadang rasanya, saya sudah banyak memberikan sesuatu kepada orang lain. Tapi orang lain tak pernah setidaknya menghargai apapun itu.

Itu sudut pandang yang amat salah. Sudut pandang emosi yang memang seharusnya tidak untuk dibagi.

Alhamdulillah.
Terima kasih Allah, untuk hari yang luar biasa. Yang selalu Engkau anugerahkan untukku.
Publisher: FK - 18.07

Obat hati

Saya termasuk orang yang percaya bahwa "sakit" demi kebaikan orang lain adalah kebaikan.

Kebaikan itu memang menyakitkan.
Tiada tipu daya apapun.
Tiada kedok.
Tiada make up tebal berlebih.
Tiada yang disembunyikan.

Bukankah sakit yang tidak diketahui (tidak terasa) biasanya lebih berbahaya?
Dibandingkan sakit yang kita bisa rasakan, karena dokterpun tau harus bagaimana penanganan terbaiknya.

Kalau tidak sakit?
Dokter pun tak tau ada apa.
Bisa - bisa sudah terlambat, kita sudah hancur, tidak bisa diselamatkan.

Jadi?
Seperti yang Allah bilang.
Setiap sakit itu ada obatnya.
Allah yang menurunkan rasa sakit, Allah pula yang menurunkan obatnya.
Publisher: FK - 17.47

heal the world

Keep calm
Stay Focus
Don't let anything break us into a pieces

If it have to be,
Let it be "Only Allah" who can break us into a pieces.
And let Him re-make our heart
Let Him make us better than before

Forgive everything,

And..

Istighfar!

Let yourself do a self healing.
Publisher: FK - 17.42

don't!

Jangan berikan aku kesempatan untuk cemburu. Jangan berikan aku alasan untuk melakukannya.
Publisher: FK - 10.27

Selasa, 25 November 2014

, , ,

Idealisme dalam bekerja. Perlukah?

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum..

Setelah hampir 2 minggu bergelut dengan sebuah proyek. Kali ini saya kembali gabung menggarap proyek yang bernama "gool.co.id" yang dikatakan akan launching sekitar tanggal 5/8 desember versi pak direktur dan 10/12 versi ibu GM Bussiness.

Kali ini saya akan membahas idealisme saya dalam bekerja. Yang baru saya sadari bahwa itu perlu. "SANGAT PERLU!".

Setelah beberapa kali lembur sampai malam dan lembur di hari libur yang ternyata malah bikin saya jatuh sakit karena nggak biasa memforsir diri, saya memutuskan untuk tidak lembur sampai malam "di kantor". Atau lebih tepatnya saya tidak mau lembur di kantor.

Iya. Diruangan kantor, meja saya di kantor bahkan komputer saya di kantor.

Bukan berarti saya karyawan yang membangkang karena tak mau lembur. Bukan!

Hanya saja saya memilih untuk lembur ditempat lain, dimana saya bisa lebih rileks dan santai, tapi tetap menghasilkan sesuatu.

Memang.
Ketentuan "mendapat uang lembur" adalah lembur di kantor dari jam tertentu sampai jam tertentu. Dan saya pun tidak munafik kalau saya pun membutuhkan uang. Tapi itu bukan prioritas saya saat ini.

Saat ini, saya tengah menjalani kehidupan dua alam.
Katakanlah itu bekerja di siang hari, dan kuliah di malam hari. Kedua - duanya sama - sama butuh perhatian saya dan konsentrasi penuh saya.

Kalau lembur diluar nggak dibayar.

Saya sih nggak masalah.

Anggap lemburan saya adalah salah satu bentuk loyalitas saya dengan perusahaan. 

Bonus karena masih memberikan toleransi atas ketidak-mauan saya untuk lembur di kantor.

Keadaan yang membuat saya harus punya idealisme adalah. Saya kuliah menggunakan hampir separuh uang ayah saya (saya belum mandiri 100%).


  • Jika saya terlalu fokus bekerja dan mengabaikan kuliah saya, saya mengecewakan beliau. 
  • Jika saya terlalu fokus kuliah dan mengabaikan pekerjaan, saya bisa saja kehilangan pekerjaan saya dan menyebabkan biaya kuliah harus ditanggung 100% oleh ayah saya. Ditambah biaya hidup per bulan-nya. 
  • Jika saya fokus bekerja, tapi kuliah saya mundur dari jadwal, ayah saya pun tetap harus membayar biaya tambahan semester dan itu artinya, saya membuang - buang uangnya dan uang saya selama 1 semester.
  • Jika saya memilih fokus bekerja, ayah saya pasti melarang. Karena beliau ingin anak perempuannya lebih memilih pendidikan dibanding karirnya. Dan itu berarti, jika saya berhenti bekerja, beban kembali kepada ayah saya.
Beberapa "jika" diatas adalah realita yang membuat saya mau tidak mau harus memiliki idealisme yang mungkin sama - sama menyusahkan banyak pihak.
  • Pertama, perusahaan. Jika saya tidak lembur, atau lembur diluar, koordinasi akan lebih sulit.
  • Kedua, keluarga saya. Jika saya ingin lembur diluar kantor, otomatis waktu bersama dirumah akan lebih sedikit. Dan waktu untuk pulang akan lebih sempit.
Saya sadar, kontribusi saya ke perusahaan masih sedikit sekali dibanding dengan teman - teman saya yang lain. Tapi apa daya, banyak keadaan berbeda dibanding teman - teman kantor saya yang membuat saya harus ekstra pinter - pinter bagi waktu dan tenaga.

Setelah membaca bagaimana cara bekerja orang jerman, saya terinspirasi untuk menentukan idealisme dan ritme bekerja saya sendiri yang lebih efektif.

Saya memutuskan untuk fokus bekerja dari jam 8 - 17 setiap harinya. Dan tidak membawa pekerjaan ke rumah. Serta tidak lembur di kantor.

Itu artinya, pekerjaan saya sudah harus selesai sebelum saya sampai di rumah.

Jika tidak selesai?

Saya harus siap bangun lebih pagi dan keluar dari rumah lebih pagi untuk melanjutkan pekerjaan saya. 

Kalau harus mengejar sebuah deadline yang memang sangat butuh lembur? saya mengambil waktu lembur diluar kantor. Tidak dirumah. Saya bisa pergi ke perpustakaan atau laboratorium riset untuk melanjutkan pekerjaan saya sebelum saya pulang kerumah.

Yang pasti suasananya harus lebih rileks.

Karena keadaan lembur di kantor itu penuh dengan kelelahan siang hari yang kadang membuat saya merasa lebih stress dibanding biasanya.

Kadang, secara tiba - tiba ada meeting dimulai sejak jam 5 sore hingga kadang sampai jam 9 malam, bahkan kadang lebih dari itu yang mengharuskan saya untuk tidak hadir di perkuliahan saya.

Yang padahal, masih ada pagi hari dari jam 8-10 yang mungkin bisa lebih produktif jika ingin melakukan meeting untuk membahas sesuatu.

Begitulah.

Ada keadaan yang memang perlu idealisme kita dan perlu kita pandang dengan realistis.

So? Selamat bekerja semua.




Salam sayang..

-fk
Publisher: FK - 10.28

Rabu, 19 November 2014

, ,

BBM naik? Pake Line aja, siapa tau ketemu teman alumni.

Bismillahirrohmanirrohim..

Fa..fa.. Nggak ikutan ngasih pandangan tentang kenaikan BBM fa?

Mayes. Nanti aja kalau udah nggak pada rame ngasih pendapat tentang kenaikan BBM. Biarin nanti udah basi juga.

Kenapa enggak sekarang aja?

Kalau sekarang, itu jadi isu sensitif. Beda pendapat dikit aja orang gampang sakit hati. Udah gitu dua kubu baik yang nggak setuju sama yang enggak sama - sama punya alasan. Sama - sama punya kepentingan sendiri yang tersirat dari kepentingan bersama.

Terus kamu sendiri setuju enggak?

Abstain. Dua pendapat sama - sama kuatnya. Saya setuju nggak naik, nanti dibilang nggak liat fakta. Setuju naik, nanti dibilang sok kaya -_-. Serba salah kan. Mending diem.

Kan pendapatnya menurut kamu?

Gimanapun udah dibilang berulang kali itu pendapat kita, tetep aja orang mah. Kadang ada aja oknum dari pihak dua pendapat itu yang sama - sama saling ngotot dan ngomong ga penting. Sama - sama tetep menganggap kita bebal.

Jadi kamu takut mengungkapkan pendapat?

Nggak. Tapi berusaha mengungkapkan pendapat di saat yang tepat. Kalau saat ini langsung sih kurang tepat kata saya. Soalnya udah banyak yang "ahli" beneran maupun "ahli" dadakan yang ngasih komentar dan pandangan pribadi soal kenaikan BBM itu.
Da saya mah percaya mereka yang punya pandangan pribadi seenggaknya yang "ahli" beneran dia research dulu keabsahan berita dan data yang dia dapet.
Da akumah apa atuh.
Bensin aja masih suka campur - campur.
Paling kalau nanti saya udah bikin polling sendiri yang memang saya bisa pertanggung jawabkan datanya, baru saya nulis :D
Publisher: FK - 20.22
, , ,

Klise

Mata memandang sendu.
Bukan sedih merambat dihati,
Bukan marah lantaran emosi,

Mata memandang hanya di sudutnya.
Tak mampu menengok,
Tak mampu memandang,
Takut kalau ini hanya fatamorgana.

Wajah dalam mata itu

Ya..
Aku malu..
Aku malu memandangnya dengan menggebu
Aku malu jika dia tau

Mungkin,
Gambaran wajahnya yang tak sempurna di anganku
Sudah lebih dari cukup mengisi kagumku
Lebih dari cukup untuk tidak terlalu mengharap
Lebih dari cukup untuk tidak diteruskan

Hanya dari mata kaca
Klise - klise itu merangkai sebuah kata

Simpan.
Rapi.
Dalam.
Untukmu.

Untukku?
Ya..
Hanya untukku.
Bukan kamu,
Atau siapapun.
Publisher: FK - 19.26

Don't!

Bismillahirrohmanirrohim..

Jangan posting kalau lagi emosi atau lagi kesel sama orang!
Reminder supaya isi tulisan bikin adem.
Publisher: FK - 13.51

Selasa, 18 November 2014

, ,

Cerita sore ini

Bismillahirrohmanirrohim..

 Dearest reader, meskipun postingan ini nggak penting - penting banget, saya cuma mau cerita salah satu kejadian yang bener - bener nikmat Allah.

Meskipun bukan kali ini aja kejadian ini terjadi, cuma ya baru kali ini aja kejadiannya bisa di posting. Hahahaha *nggak penting pisan*

Jadi gini ceritanya,
Nggak tau kenapa, *karena suatu alasan* saya kesel banget sama orang. Diem - dieman aja kayak belut cacingan -_-

Yaudah, bete.


Akhirnya, memutuskan untuk sholat aja. Kebetulan juga udah maghrib. Alhamdulillah.
Pertama - tama, diperjalanan mau ke mushola teh bawaannya kayak bawa bara api di pikiran, di hati, berasa flaming gitu pas dijalan.

Jadi kayak macam katnis everdeen di poster mockingjay. Hahahaha

Pas dijalan pun, udah dengan gaya dan amarah *cieile* merangkai kata untuk nulis blog, yang rencananya pengen ngungkapin amarah *okey itu niat gak baik, ga usah diikutin*.

Sampai toilet, merangkai kata lagi.

Tapi pas wudhu, siraman air pertama di kulit tangan sebelum wudhu bikin tiba - tiba sendu. Kumuran pertama mata berlinang, basuhan pertama, air mata jatuh.

Kenapa?
Saya juga nggak tau.
Rasanya itu yaa gimana ya? susah diungkapkan dengan kata - kata.

Pas sholat nih.
Nggak ada perasaan apa - apa. Fokus aja sholat. Nggak mikir apa - apa.

Ternyata, setelah selesai sholat, saya lupa tadinya teh mau posting apa. Mau nulis apa.

Sampe postingan ini diterbitkan pun, saya masih nggak inget mau nulis apa seputar amarah saya tadi.

Ya Allah..
Sholat itu luar biasa.

Sesuai pisan sama sunnah Rosul.

Kalau marah, istighfar,
Masih marah, pindah posisi.
Masih marah, wudhu.
Masih marah sholat.

Dan keajaiban emang selalu dateng kalau mengimplementasikan baik salah satu maupun semuanya.

Nikmat Allah yang paling luar biasa yang selalu bikin saya seneng dan nggak bosen untuk terus - terusan implementasiin itu ketika dalam keadaan emosi memuncak.

Da namanya perempuan mah, kalau emosinya udah memuncak, nggak dikeluarin dalam bentuk omelan dan ceracau nggak jelas, ujung - ujungnya ya nangis.

Dan saya lebih ke opsi yang kedua.
Cengeng?
Enggak lah.
Da saya mah jarang nangis juga. Paling kalau kesel pergi dulu kemana, kalau udah parah banget, "pukulkan saja temboknya, itung - itung ngetes kekuatan betonnya".

Dan pada akhirnya, saya bisa ketawa - ketiwi lagi.
Bahkan orang - orang yang tau beberapa menit lalu saya kesel, tiba - tiba saya udah ketawa aja pada bingung.

Jadi gitu ceritanya.

Terima kasih sudah sudi mampir.

-fk-
Publisher: FK - 19.10

Non sense

Bismillahirrahmanirrahim..

Mungkin bukanlah sebuah kebanggaan.

Melakukan hal sepele, yang seharusnya sudah dilakukan sejak 15 tahun lalu.
Yang seharusnya sudah menjadi agenda rutin.
Yang seharusnya tak perlu makian atau hinaan untuk berubah.

Bodoh ya?

Iya!

Saat orientasi berbeda,
Saat prioritas tak sama,
Saat keadaan tak bersahabat.

Saat menyalahkan diri sendiri masih kurang cukup untuk memuaskan hati mereka.

Lantas aku harus apa?

Memecahkan gelas biar ramai?
Memaki angin biar lega?
Mencuri api biar terbakar?

Mungkinkah aku harus membenci hujan.

Yang setiap ia datang, segala perasaan membanjiri.

Rasa bersalah akibat kewajiban lain.
Yang seharusnya tak terabaikan.
Yang seharusnya di prioritaskan.

Iya..

Seharusnya gelas itu tidak pecah.
Angin itu tidak tertahan.
Api itu tetap pada tempatnya.

Iya..

Seharusnya yang seharusnya itu tidak perlu diperbincangkan lagi.
Publisher: FK - 16.36