Assalamu'alaikum..
entah kenapa, si penulis lagi rajin pengen nulis blog..
dan lagi senang sama tema "Bidadari Surga"
dan ini salah satu cerita berdasarkan pengalaman dan bacaan penulis..
--------------------------------------------------
"Kenapa wanita dunia lebih utama dari bidadari surga"
sedikit intisari dari bacaan dan cerita seseorang..
pernah berfikir jaman dulu, "kok bisa, wanita dunia lebih utama dari bidadari surga"
dan akhirnya banyak dapat referensi jawaban..
salah satunya kita mereferensi dari hadist-nya Rasulullah..
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Saya bertanya,
“Wahai Rasulullaah صلى الله عليه وسلم , manakah yang lebih utama, wanita
dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”
Beliau
shalallaahu ’alaihi wa sallam menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama
daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa
yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”
Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”
Beliau
menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada ALLAH.
ALLAH meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra,
kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya
kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas.
Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan
tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama
sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali.
Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.” (HR. Ath
Thabrani)
itu salah satu riwayat yang saya dapatkan dan sering saya dengar.
menurut saya..
mengapa wanita dunia lebih utama dari bidadari surga, karena mereka berusaha sendiri..
maksudnya disini,
mereka berusaha menjaga kehormatan mereka saat yang lain dengan mudahnya kehilangan kehormatannya sebagai wanita. Sedangkan bidadari surga, mereka memang sudah "terjaga"
mereka berusaha mendekat pada Allah saat yang lain justru jauh dari Allah. Sedangkan bidadari surga memang "sudah dekat"
mereka berusaha menggapai surga. sedangkan bidadari surga "sudah di surga"
kenapa lebih utama?
Allah melihat proses.. karena hasil adalah hak perogratif-Nya yang tidak bisa diganggu gugat..
bagaimana kesungguhan kita untuk mendekat padaNya..
itulah kenapa wanita dunia lebih utama menurut saya..
kalau kata sahabat saya "seperti intan yang harus ditempa dan dibakar berkali2 agar menjadi indah"
"Man Jadda Wa Jadda"
Siap jadi wanita dunia yang "lebih utama" dari bidadari bermata jeli??
ketika orang bertanya, "kenapa seorang muslimah tidak boleh memasang fotonya di facebook atau jejaring sosial lain?"
tanyakan saja padanya "menurutmu bidadari itu cantik gak?"
tanyakan lagi "bagaimana kamu bisa bilang cantik, padahal kamu belum melihatnya.."
seperti itulah analoginya..
bidadari-pun dikatakan cantik tanpa kita tau bagaimana paras dan rupanya..
tapi kita yakin mereka cantik, karena mereka belum pernah disentuh siapapun, belum pernah dilihat siapapun.. karena cantiknya bukan untuk dipertontonkan secara gratis kepada semua orang..
apalagi wanita muslimah yang sholehah yang tentu lebih utama dari bidadari surga..
siapa sih yang gak mau jadi yang lebih utama dari bidadari surga?
harusnya wajahnya lebih jadi simpanan dong :)
bidadari surga aja menampakkan wajahnya hanya untuk suaminya kelak..
apalagi para muslimah sholehah yang "lebih utama" dari mereka
berani saingan sama bidadari surga?? HARUS BERANI dong.. :)
yuk, saudariku yang cantik - cantik...
mulai belajar dikit2 mengurangi foto di dunia maya..
katanya mau saingan sama bidadari surga..
yukk..
biar tambah cantik..
gak pasang foto di jejaring sosial lebih cantik lhoo..
yups..
dari judulnya aja udah bikin cukup menjawab apa yang mau dibahas disini
sebenarnya, saya juga bingung
mau nulis apa,
dan tiba - tiba
inget hewan lucu bernama "buaya"
lucu kan??
jangan liat gambar yang ini aja, ntar image buaya jadi menyeramkan
*RAWWRRRRRRRR
oke, jangan kebanyakan intermezzo..
pertama, mari kita pelajari filosofi "ROTI BUAYA"
saya mengenal roti buaya pertama kali di lagu jaman dulu -entah judulnya apa, pokoknya ada roti buayanya- dan baru tau belakangan ini kalau ternyata itu salah satu "seserahan" yang wajib dibawa untuk pernikahan adat betawi.
pernah dulu iseng, karena gak tau, minta oleh2 sama temen yang orang jakarta roti buaya.. -saya emang ga pernah makan sih,jadi pengen tau- dan tiba2 dia bilang, "bisa berabe kalau bawa terus dikasih ke kamu, ntar dikiranya mo ngapain lagi" dan akhirnya saya langsung googling -sok keren bahasanya- dan menemukan faktanya roti buaya..
konon katanya -cieile kayak pelem indo**ar aja- buaya ini hewan yang setia lhoo..!! *kok bisa?
filosofinya adalah karena buaya itu hewan yang langgeng sama
pasangannya. Sehingga roti buaya itu perlambang kelanggengan pasangan
pernikahan. Mungkin ini sudah diteliti oleh nenek moyang kita dulu yah.
Jadi kalau mau langgeng, perumpamannya seperti buaya itu.
-percaya??coba buktikan sendiri!!- hahaha
sekarang yang bikin bingung, kenapa hewan setia ini digunakan untuk menyebut -maaf- "laki - laki'" yang gak setia?yang sukanya nemplok sana nemplok sini -kayak cicak aje nemplok- #kenapa logat saya jadi logat betawi? omo..>_<
-kembali ke pembahasan- konon katanya juga, buaya itu suka diam-diam, lalu tiba2 menyerang mangsanya. Buaya itu
pandai mengatur trik sedemikian rupa, berpura-pura, sehingga menipu
korbannya. Buaya berlama-lama merendamkan tubuhnya di air, diam dan
tidak bergerak mengamati calon mangsanya, sementara yg muncul ke
permukaan air hanya matanya saja yg kelihatan.
Jadi kalau ada lelaki yang suka berpura-pura, pandai menipu, sedemikian
rupa menggaet calon korbannya, akhirnya disamakan dengan buaya. Karena
lelaki tidak hidup di dalam air seperti buaya yang bisa hidup di darat
dan di air, maka laki-laki diibaratkan buaya yang hidup di darat,
jadinya buaya darat -hayoloh, kasian banget -_-"
ada perumpamaan yang lumayan bikin ngakak juga nih
kalau di air jadi buaya, kalau di darat jadi laki-laki.
hmm.. kasian banget lah ya, kaum adam..
padahal kan gak semua laki - laki *pake backsound lagu Meggy Z
kalau kata kak Ramdani di training, "gak semua laki - laki buaya, ada cicak, ada kadal"
dan banyak lagi filosofi menggunakan nama hewan imut ini -_-"
oke..
semoga tulisan saya gak makin "GJ"-jadi inget nama laptop orang-haha
Saya menemukan cerita ini dari blog sebelah.. kalau mau baca monggo..!!
------------------------------------------
Alkisah, seorang pembuat jam tangan tengah berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Wahai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?”
“Ha?,” kata jam terperanjat, “Sebanyak itu? Mana sanggup saya?”
“Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?” tanya si tukang jam.
“Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.
Ya sudah, “Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?”
“Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu !”. Tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam.
Kalau begitu, “Sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?”
“Satu kali dalam satu detik? Ah..kalau ini mah ringan. Kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.
Si tukang jam pun tersenyum dan segera merampungkan jam tersebut. Maka, setelah selesai dibuat jam itu pun berdetak satu kali dalam setiap detiknya. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali !
Renungan : Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap mustahil untuk dilakukan sekalipun.
Jangan berkata “tidak” sebelum Anda mencobanya!
sumber : http://wyw1d.wordpress.com/2010/01/05/cerita-motivasi-kisah-sebuah-jam/
“Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang
lebar.
Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada
keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan
terang.
Namun tanpa lidah,
cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai
kepada cinta
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta
Dan percintaan!”
- Petikan puisi Rumi dalam Diwan Shamsi Tabriz diterjemahkan oleh Abdul Hadi
W.M. –
Ada yang ingat puisi ini?? Yupzz… buat yang sering nonton KCB pasti tau donk puisi ini.. Romantis euy… Ahahahahahayyyy…
Tapi, yang akan dibahas disini bukanlah isi dari puisi itu, melainkan adalah sang penulis puisi..
“JALALUDDIN RUMI”
Namanya Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September1207Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, mistikus yang berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Saat Rumi berusia 3 tahun karena adanya bentrok di kerajaan maka keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khorasan. Dari sana Rumi dibawa pindah ke Nishapur, tempat kelahiran penyair dan alhi matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan.
Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.
Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide.
Banyak dijumpai berbagai kisah dalam satu puisi Rumi yang tampaknya berlainan namun nyatanya memiliki kesejajaran makna simbolik. Beberapa tokoh sejarah yang ia tampilkan bukan dalam maksud kesejarahan, namun ia menampilkannya sebagai imaji-imaji simbolik. Tokoh-tokoh semisal Yusuf, Musa, Yakub, Isa dan lain-lain ia tampilkan sebagai lambang dari keindahan jiwa yang mencapai ma'rifat. Dan memang tokoh-tokoh tersebut terkenal sebagai pribadi yang diliputi oleh cinta Ilahi.
Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah :
jangan tanya apa agamaku. aku bukan yahudi. bukan zoroaster. bukan pula islam. karena aku tahu, begitu suatu nama kusebut, kau akan memberikan arti yang lain daripada makna yang hidup di hatiku.
Tak dapat di pungkiri.. Kematian akan selalu mengikuti kita.. kemanapun kita melangkah, kematian selalu di belakang kita.. akan datang pada saat yang telah di tentukan..
Bersyukur.. Ucapkan ALHAMDULILLAH sebagai ungkapan mendalam rasa syukur kita kepada ALLAH atas nikmat kehidupan yang ALLAH berikan pada kita..
2 kali aku mengalami kecelakaan berupa terjatuh dari motor.. aku pun merenungi kejadian itu.. setiap hembusan nafas kurasakan.. begitu indah nikmat yang kau berikan Ya Allah.. mungkin ini teguran darimu untuk kami..
Tapi, alhamdulillah.. ketika terjatuh hari senin, aku terjatuh di tengah jalan dalam keadaan jalan yang sepi.. padahal biasanya banyak mobil cargo atau bahkan container yang lalu lalang di jalan itu.. Allah telah menunjukkan kuasanya. Alhamdulillah.. terima kasih Ya Allah, telah mengingatkanku.. ketika kemarin aku terjatuh, aku terjatuh di tengah keramaian saat lampu merah.. Tapi, aku terjatuh dan tubuhku menghantam trotoar..meskipun kakiku terkunci hingga tak bisa bangun dari jatuh.. Tapi, aku terjatuh tepat di pinggir trotoar.. Dan kebetulan lampu masih merah. Alhamdulillah... ALLAH menyelamatkan nyawaku lagi..
sedikit share curhatan salah satu kakak atau bahkan orang yang di tuakan di FOS**.. cobalah bayangkan.. ketika kita tidur, tapi ALLAH tidak memberikan kesempatan untuk hidup lagi.. bayangkan ketika tidur itu dalam keadaan kafir?? sungguh pasti penyesalan yang kita ucapkan..
Memang... sebagai trigger untuk melakukan muhasabah dan memperbaiki amalan kita adalah mengingat kematian . Setiap jiwa yang hidup akan merasakan mati kecuali ALLAH Al-Hayyu yang Maha Hidup.
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyaa’: 34-35)
Tidak ada yang menjamin bukan kita masih dapat hidup hingga 20 tahun lagi?
Ya Allah... Aku bersyukur masih kau berikan kesempatan untuk melihat sinar matahari pagi, disaat banyak orang di luar sana yang mungkin sudah tidak memiliki kesempatan untuk melihat sinar matahari pagi. Aku bersyukur masih kau berikan kesempatan untuk menghirup oksigenmu secara gratis disaat banyak orang di luar sana yang harus membayar tabung oksigen untuk kelangsungan hidupnya. Aku bersyukur masih dapat menggunakan pakaianku yang dapat melindungi kulitku dari segala macam gangguan, disaat banyak orang di luar sana yang hanya menggunakan pakaian seadanya.. Aku bersyukur masih bisa makan nasi, disaat banyak orang2 di luar sana yang makan menggunakan nasi aking..
Ya Allah... Mata ini Kau berikan gratis untukku, lengkap tanpa ada cacat sedikitpun.. Hidung ini Kau berikan gratis untukku, lengkap tanpa ada cacat sedikitpun.. Seluruh organ dalam tubuhku Kau berikan gratis untukku,.. tapi terkadang, justru aku rusak dengan kelakuanku.. Astaghfirullah...
Alhamdulillah.. masih kau beri kesempatan untuk menyadari semuanya.. masih kau berikan waktu untuk memperbaiki semuanya..
Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.
Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.
Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.
Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
Lalu ia bertanya kepada anaknya,
“Apa yang kau lihat, nak?”
"Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak.
Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.
Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya,
“Apa arti semua ini, Ayah?”
Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.
“Kamu termasuk yang mana?,”
tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”
“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”
“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”
“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”
“Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri”
mungkin untuk teman - teman yang udah sering ikut ESQ pasti hafal dengan salah satu cerita inspirator, yang dapat menginspirasi kita..
inilah cerita tentang THORIQ bin ZIYAD...
****************
Setelah Rasulullah saw. wafat, Islam menyebar dalam spektrum yang luas. Tiga benua lama -Asia, Afrika, dan Eropa-pernah merasakan rahmat dan keadilan dalam naungan pemerintahan Islam. Tidak terkecuali Spanyol (Andalusia). Ini negeri di daratan Eropa yang pertama kali masuk dalam pelukan Islam di zaman Pemerintahan Kekhalifahan Bani Umaiyah.
Sebelumnya, sejak tahun 597 M, Spanyol dikuasai bangsa Gotic, Jerman. Raja Roderick yang berkuasa saat itu. Ia berkuasa dengan lalim. Ia membagi masyarakat Spanyol ke dalam lima kelas sosial. Kelas pertama adalah keluarga raja, bangsawan, orang-orang kaya, tuan tanah, dan para penguasa wilayah. Kelas kedua diduduki para pendeta. Kelas ketiga diisi para pegawai negara seperti pengawal, penjaga istana, dan pegawai kantor pemerintahan. Mereka hidup pas-pasan dan diperalat penguasa sebagai alat memeras rakyat.
Kelas keempat adalah para petani, pedagang, dan kelompok masyarakat yang hidup cukup lainnya. Mereka dibebani pajak dan pungutan yang tinggi. Dan kelas kelima adalah para buruh tani, serdadu rendahan, pelayan, dan budak. Mereka paling menderita hidupnya.
Akibat klasifikasi sosial itu, rakyat Spanyol tidak kerasan. Sebagian besar mereka hijrah ke Afrika Utara. Di sini di bawah Pemerintahan Islam yang dipimpin Musa bin Nusair, mereka merasakan keadilan, kesamaan hak, keamanan, dan menikmati kemakmuran. Para imigran Spanyol itu kebanyakan beragama Yahudi dan Kristen. Bahkan, Gubernur Ceuta, bernama Julian, dan putrinya Florinda -yang dinodai Roderick-ikut mengungsi.
Melihat kezaliman itu, Musa bin Nusair berencana ingin membebaskan rakyat Spanyol sekaligus menyampaikan Islam ke negeri itu. Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memberi izin. Musa segera mengirim Abu Zar’ah dengan 400 pasukan pejalan kaki dan 100 orang pasukan berkuda menyeberangi selat antara Afrika Utara dan daratan Eropa.
Kamis, 4 Ramadhan 91 Hijriah atau 2 April 710 Masehi, Abu Zar’ah meninggalkan Afrika Utara menggunakan 8 kapal dimana 4 buah adalah pemberian Gubernur Julian. Tanggal 25 Ramadhan 91 H atau 23 April 710 H, di malam hari pasukan ini mendarat di sebuah pulau kecil dekat Kota Tarife yang menjadi sasaran serangan pertama.
Di petang harinya, pasukan ini berhasil menaklukan beberapa kota di sepanjang pantai tanpa perlawanan yang berarti. Padahal jumlah pasukan Abu Zar’ah kalah banyak. Setelah penaklukan ini, Abu Zar’ah pulang. Keberhasilan ekspedisi Abu Zar’ah ini membangkitkan semangat Musa bin Nusair untuk menaklukan seluruh Spanyol. Maka, ia memerintahkan Thariq bin Ziyad membawa pasukan untuk penaklukan yang kedua.
Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathufat bin Nafzau adalah putra suku Ash-Shadaf, suku Barbar, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata, dan ilmu bela diri.
Senin, 3 Mei 711 M, Thariq membawa 70.000 pasukannya menyeberang ke daratan Eropa dengan kapal. Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan pasukannya di sebuah bukit karang yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar -diambil dari bahasa Arab “Jabal Thariq”, Bukit Thariq. Lalu ia memerintahkan pasukannya membakar semua armada kapal yang mereka miliki.
Pasukannya kaget. Mereka bertanya, “Apa maksud Anda?” “Kalau kapal-kapal itu dibakar, bagaimana nanti kita bisa pulang?” tanya yang lain.
Dengan pedang terhunus dan kalimat tegas, Thariq berkata, “Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa!”
Kini pasukannya paham. Mereka menyambut panggilan jihad Panglima Perang mereka itu dengan semangat berkobar.
Lalu Thariq melanjutkan briefingnya. “Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan.
Musuh dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan yang lengkap telah siap menyongsong kalian. Sementara senjata kalian hanyalah pedang. Kalian akan terbantu jika kalian berhasil merebut senjata dan perlengkapan musuh kalian. Karena itu, secepatnya kalian harus bisa melumpuhkan mereka. Sebab kalau tidak, kalian akan menemukan kesulitan besar. Itulah sebabnya kalian harus lebih dahulu menyerang mereka agar kekuatan mereka lumpuh. Dengan demikian semangat juang kita akan bangkit.
Musuh kalian itu sudah bertekad bulat akan mempertahankan negeri mereka sampai titik darah penghabisan. Kenapa kita juga tidak bertekad bulan untuk menyerang mereka hingga mati syahid? Saya sama sekali tidka bermaksud menakut-nakuti kalian. Tetapi marilah kita galang rasa saling percaya di antara kita dan kita galang keberanian yang merupakan salah satu modal utama perjuangan kita.
Kita harus bahu membahu. Sesungguhnya saya tahu kalian telah membulatkan tekad serta semangat sebagai pejuang-pejuang agama dan bangsa. Untuk itu kelak kalian akan menikmati kesenangan hidup, disamping itu kalian juga memperoleh balasan pahala yang agung dari Allah swt. Hal itu karena kalian telah mau menegakkan kalimat-Nya dan membela agama-Nya.
Percayalah, sesungguhnya Allah swt. adalah penolong utama kalian. Dan sayalah orang pertama yang akan memenuhi seruan ini di hadapan kalian. Saya akan hadapi sendiri Raja Roderick yang sombong itu. Mudah-mudahan saya bisa membunuhnya. Namun, jika ada kesempatan, kalian boleh saja membunuhnya mendahului saya. Sebab dengan membunuh penguasa lalim itu, negeri ini dengan mudah kita kuasai. Saya yakin, para pasukannya akan ketakutan. Dengan demikian, negeri ini akan ada di bawah bendera Islam.”
Mendengar pasukan Thariq telah mendarat, Raja Roderick mempersiapkan 100.000 tentara dengan persenjataan lengkap. Ia memimpin langsung pasukannya itu. Musa bin Nusair mengirim bantuan kepada Thariq hanya dengan 5.000 orang. Sehingga total pasukan Thariq hanya 12.000 orang.
Ahad, 28 Ramadhan 92 H atau 19 Juli 711 M, kedua pasukan bertemu dan bertempur di muara Sungai Barbate. Pasukan muslimin yang kalah banyak terdesak. Julian dan beberapa orang anak buahnya menyusup ke kubu Roderick. Ia menyebarkan kabar bahwa pasukan muslimin datang bukan untuk menjajah, tetapi hanya untuk menghentikan kezaliman Roderick. Jika Roderick terbunuh, peperangan akan dihentikan.
Usaha Julian berhasil. Sebagian pasukan Roderick menarik diri dan meninggalkan medan pertempuran. Akibatnya barisan tentara Roderick kacau. Thariq memanfatkan situasi itu dan berhasil membunuh Roderick dengan tangannya sendiri. Mayat Roderick tengelam lalu hanyat dibawa arus Sungai Barbate.
Terbunuhnya Roderick mematahkan semangat pasukan Spanyol. Markas pertahanan mereka dengan mudah dikuasai. Keberhasilan ini disambut gembira Musa bin Nusair. Baginya ini adalah awal yang baik bagi penaklukan seluruh Spanyol dan negara-negara Eropa.
Setahun kemudian, Rabu, 16 Ramadhan 93 H, Musa bin Nusair bertolak membawa 10.000 pasukan menyusul Thariq. Dalam perjalanan ia berhasil menaklukkan Merida, Sionia, dan Sevilla. Sementara pasukan Thariq memabagi pasukannya untuk menaklukkan Cordova, Granada, dan Malaga. Ia sendiri membawa sebagian pasukannya menaklukkan Toledo, ibukota Spantol saat itu. Semua ditaklukkan tanpa perlawanan.
Pasukan Musa dan pasukan Thariq bertemu di Toledo. Keduanya bergabung untuk menaklukkan Ecija. Setelah itu mereka bergerak menuju wilayah Pyrenies, Perancis. Hanya dalam waktu 2 tahun, seluruh daratan Spanyol berhasil dikuasai. Beberapa tahun kemudian Portugis mereka taklukkan dan mereka ganti namanya dengan Al-Gharb (Barat).
Sungguh itu keberhasilan yang luar biasa. Musa bin Nusair dan Thariq bin Ziyad berencana membawa pasukannya terus ke utara untuk menaklukkan seluruh Eropa. Sebab, waktu itu tidak ada kekuatan dari mana pun yang bisa menghadap mereka. Namun, niat itu tidak tereaslisasi karena Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memanggil mereka berdua pulang ke Damaskus. Thariq pulang terlebih dahulu sementara Musa bin Nusair menyusun pemerintahan baru di Spanyol.
**************************
coba bandingkan yang satu ini??
“Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa!”